MAKALAH: PERADABAN ISLAM PADA MASA DAULAH UMAYAH BARAT (705-1031)

       I.             PENDAHULUAN Setelah berakhir periode klasik Islam, ketika islam mulai memasuki masa kemunduran, Eropa bangkit d... thumbnail 1 summary


       I.            PENDAHULUAN
Setelah berakhir periode klasik Islam, ketika islam mulai memasuki masa kemunduran, Eropa bangkit dari keterbelakangannya. Kebangkitan itu bukan saja terlihat dalam bidang politik dengan keberhasilan Eropa mengalahkan kerajaan-kerajaan islam dan bagian dunia lainnya, tetapi terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan, kemajuan dalam bidang ilmu dan teknologhinitulah yang mendukung keberhasilan politiknya. Kemajuan-kemajuan Eropa ini tidak dapat dipisahkan dari pemerintahan islam di Spanyol. Dari Islam Spanyol  di Eropa banyak menimba ilmu. Pada periode klasik, ketika Islam berhasil mencapai masa keemasaan, Spanyol merupakan pusat perdaban Islam yang sangat penting, menyaingi baghdad di timur. Ketika itu, orang-orang Eropa Kristen banyak belajar di perguruan-perguruan tinggi Islam disana.  Islam menjadi “Guru” bagi orang Eropa. Karena itu kehadiran Islam di Spanyol banyak menarik perhatian para sejarawan.[1]

    II.            RUMUSAN MASALAH
A.    Pendirian Daulah Umayyah di Andalusia
B.     Perkembangan kota dan seni bangunan
C.     Perkembangan ilmu-ilmu bangunan dan ilmu-ilmu agama

 III.            PEMBAHASAN
A.    Pendirian Daulah Umayyah di Andalusia
Telah disebut bahwa arus ekspansi Islam dimulai setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW dan mencapai puncaknya pada masa Khalifah Umayah, Al-Walid, dimana peta Islam meluas ke Barat sampai Semenanjung Iberia dan di kaki Gunung Pyrenia, Prancis, termasuk Afrika Utara. Di Utara meliputi Asia Kecil dan Armenia dengan rute-rute pantai Laut Kaspia menyebrangi sungai Oxus, Asia Tengah bagian Georgia, seberang Sungai Jihun, dan ke Timur sampai India dan perbatasan China. Dalam waktu yang relative singkat di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Al-Maghrib, Musa ibn Nusair, dengan panglima perang --Gubernur Tangier—Tariq bin Ziyad bin Abdul al-Laythi, seorang muallaf, masih remaja dari Lowata, anak suku Berber, yang berhasil menaklukkan Andalusia, 711-715.[2]
Sebelum umat Islam menguasai Andalusia wilayah yang terletak disekitar semenanjung Iberia dan membelah Benua Eropa dengan Afrika ini dikenal dengan berbagai nama. Sebelum abad ke – 5 M, wilayah ini disebut dengan Iberia ( atau Les Iberes ), yang diambil dari nama Bangsa Iberia ( penduduk tertua diwilaya tersebut ). Ketika berada dibawah kekuasan Romawi, wilayah ini dikenal dengan nama Asbania. Pada abad ke – 5 M, Andalusia dikuasai olah Bangsa Vandal yang berasal dari wilayah ini sejak itu wi'layah ini disebut Vandalusia yang oleh umat Islam akhirnya disebut “Andalusia”. Setelah itu datanglah bangsa Gothia ke Andalusia memerangi bangsa Vandal dan menguasai Andalusia. Pada Awalnya bangsa Gothia ini kuat sekali tapi kemudian banyakperpecahan dan menyebabkan kemunduran kerajaan itu.
Kemudian setelah Witiza, raja Gothia meninggal digantikan oleh Roderick. Peristiwa ini menyebabkan putera-putera raja Witiza sangat marah dan mereka mengadakan perjanjian persekutuan dengan kaum muslimin. Begitu pula telah terjadi perselisihan antara Count Julian yang memegang pemerintah. Perselisihan ini kabarnya karena Roderik mencemarkan kehormatan puteri dari Julian. Karena itu Julian ingin membalas dendam untuk membela kehormatan dan nama baiknya. Ia berusaha mendorong kaum Muslimin supaya menyerbu ke Spanyol. Tentunya ini merupakan kesempatan yang baik bagi kaum muslim.
Kaum yang memusuhi Rodrick itu akhirnya meminta Graf Julian bekerja sama Musa bin Nushair, gubernur Muawiyah di Afrika. Musa kemudian minta ijin pada Khalifah walid bin Abdul Malik yang berkedudukan di Damascus, dan segera dikirmlah pasukan sebanyak 500 orang dibawah pimpinan Tharif bin Malik untuk menyerbu Spanyol. Setelah kemenangan pasukan ini, Musa mengirimkan pasukan gerak cepat di bawah komando Thariq bin Ziyad, kemudian Thariq bin Ziyad berngkat untuk memimpin 7000 orang tentara yang terdiri dari bangsa Babar. Mereka menyebrangi selat itu dengan kapal-kapal yang disediakan oleh Julian, penguasa di Septah, yang dulunya pernah pula menyediakan kapal-kapal untuk Tharif dan pasukannya. Ini terjadi pada bulan Rajab atau Sya’ban tahun 92 H. Thariq beserta pasukannya kemud ian mendarat dan menempati suatu gunung yang sampai kini masih dikenal dengan namanya sendiri, yaitu “jabal Thariq” (Giblatar). Disanalah Thariq mempersiapkan satuan-satuannya untuk menyerbu semenanjung yang luas dan makmur itu.[3]
Thariq ibn Ziyad lebih banyak dikenal sebagai penakluk Spanyol, karena pasukannya lebih besar dari hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa ibn Nushair dan sebagian lagi orang arab yang dikirim Khalifah Al-Walid. Pasukan itu kemudian menyebrangi Selat dibawah pimpinan Thariq ibn Ziyad. Sebuah gunung tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya. Dikenal dengan nama Giblatar (Jabal Thariq). Dengan dikuasainya daerah ini, maka terbukalah pintu secara luas untuk memasuki Spanyol. Dalam Pertempuran di suatu tempat bernama Bakkah, Raja Roderick dapat dikalahkan. Dari situ Thariq dan pasukannya terus menaklukkan kota-kota penting, seperti Cordova, Granada, dan Toledo (Ibu kota kerajaan Goth saat itu). Sebelum Thariq menaklukkan kota Toledo, ia meminta tambahan pasukan kepada Musa ibn Nushair di Afrika Utara. Musa mengirimkan tambahan pasukan sebanyak 5.000 personel, sehingga jumlah pasukan Thariq seluruhnya 12.000 orang. Jumlah ini belum sebanding dengan pasukan Ghotik yang jauh lebih besar, 100.000 orang.
Kemenangan pertama yang dicapai oleh Thariq ibn Ziyad membuka jalan untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi. Untuk itu, Musa ibn Nushair merasa perlu melibatkan diri dalam gelanggang pertempuran dengan maksud membantu perjuangan Thariq. Dengan suatu pasukan yang besar, ia berangkat menyebrangi selat itu dan satu persatu kota yang dilewatinya dapat ditaklukkannya. Setelah Musa berhasil menaklukan Sidonia, Karmona, Seville dan Merida serta mengalahkan penguasa kerajaan Gothic, Theodomir di Orihuela, ia bergabung dengan Thariq di Toledo. Selanjutnya, keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya, mulai dari Saragosa sampai Navare.[4]
B.     Perkembangan kota dan seni Bangunan
Sejak pertama kali menginjakan kaki di tanah Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir disana, Islam memainkan perananan yang sangat besar. Masa itu berlangsung lebih dari tujuh stengah abad. Sejarah panjang yang dilalui umat Islam di Spanyol itu dapat dibagi menjadi enam periode, yaitu:
1.      Periode Pertama (711-755 M)
Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna, gangguan-gangguan masih terjadi baik datang dari dalam maupun dari luar. Gangguan dari dalam antara lain berupa perselisihan di antara elit penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan. Di samping itu, terdapat perbedaan pandangan terhadap khalifah di Damaskus dan Gubernur Afrika Utara yang berpusat di Kairawan. Masing-masing mengaku bahwa, merekalah yang berhak menguasai daerah Spanyol ini. Oleh karena itu, terjadi dua puluh kali pergantian wali (gubernur) Spanyol dalam jangka waktu yang amat singkat. Perbedaan seringnya terjadi perang saudara. Hal ini ada hubungannya dengan perbedaan etnis, terutama antara Barbar asal Afrika Utara dan Arab. Di dalam etnis Arab sendiri, terdapat dua golongan yang terus menerus bersaing, yaitu suku Qaisy (Arab Utara) dan Arab Yunani (Arab Selatan). Perbedaan etnis ini seringkali menimbulkan konflik politik, terutama ketika tidak ada figur yang tangguh. Itulah sebabnya di Spanyol pada saat itu tidak ada gubernur yang mampu mempertahankan kekuasaannya untuk jangka waktu yang agak lama.
Gangguan dari luar datang dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol yang bertempat tinggal di daerah-daerah pergunungan yang memang tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Islam. Gerakan ini terus memperkuat diri. Setelah berjuang lebih dari 500 tahun, akhirnya mereka mampu mengusir Islam dari bumi Spanyol.
            Karena seringnya terjadi konflik internal dan berperang menghadapi musuh luar, maka dalam periode ini Islam Spanyol belum memasuki kegiatan pembangunan dipandang peradaban dan kebudayaan. Periode ini berakhir dengan datangnya Abd Al-Rahman Al-Dakhil ke Spanyol pada tahun 13 H/755 M.

2.      Periode kedua (755-912 M)
Pada periode ini, Spanyol berada dibawah pemerintahan seorang yang bergelar amir (panglima atau gubernur) tetapi tidak tunduk kepada pusat pemerintahan Islam yang ketika itu dipegang oleh Khalifah Abbasiyah di Baghdad. Amir pertama adalah Abdurrahman I, yang memasuki Spanyol tahun 138 H/755 M dan diberi gelar Al-Dakhil (Yang Masuk ke Spanyol). Dia adalah keturunan Bani Umayah yang berhasil lolos dari kejaran Bani Abbas ketika yang terakhir ini berhasil manaklukkan Bani Umayyah di Damaskus. Selanjutnya, ia berhasil mendirikan dinasti Bani Umayyah di Spanyol.
Pada periode ini, umat Islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan-kemajuan, baik dalam bidang politik maupun dalam bidang peradaban. Abd Al-Rahman Al-Dakhil mendirikan masjid Cordova dan sekolah-sekolah di kota-kota besar Spanyol. Hisyam dikenal dalam menegakkan hukum islam  dan Hakam dikenal sebagai pembaharu dalam bidang kemiliteran.  Dialah yang memprakarsai tentara bayaran di Spanyol. Sedangkan Abd Al-Rahman Al-Ausath di kenal sebagai penguasa yang cinta ilmu. Pemikiran filsafat juga mulai masuk pada periode ini, terutama di zaman Abdurrahman Al-Aushat. Ia mengundang para ahli dari dunia Islam lainya untuk dating ke Spanyol sehingga kegiatan ilmu pengetahuan di Spanyol mulai samarak.

3.       Periode ke-3(912-1013M)
Periode ini berlansung mulai dari pemerintahan Aburrahman III yang bergelar “An-Nasir” sampai munculnya “raja-raja kelompok” yang dikenal dengan sebutan Mulk At-Thawa’if. Pada periode ini, Spanyol diperintahn oleh penguas adengan gelar khalifah, pengguanaan gelar khalifah tersebut bermual dari berita yang sampai pada Abdurrahman III, bahwa Al-Muktadir Khalifah Daulah Bani Abbas di Baghdad meninggal dunia dibunuh oleh pengawalnya sendiri. Menurut penilaiannya, keadaan ini menunjukkan bahwa suasana pemerintahan Abbasyiah sedang berada dalam kemelut, ia berpendapat bahwa saat ini merupakan saat yang paling tepat untuk memakai gelar khalifah yang telah hilang dari kekuasaan bani Umayyah selama 150 tahun lebih. Karena itulah, gelar ini dipakai mulai tahun 929 M. khalifah-khalifah besar yang memerintah pada periode ini ada tiga orang yaitu Abdurrahman An-Nasir (912-961 M), Hakam II (961-976 M) dan Hisyam II(976-1009 M).
Pada periode ini umat islam Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan, menyaingi kejayaan Daulah Abbasyiah di Baghdad. Abdurrahman An-Nasir mendirikan universitas Kordoba. Perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku. Hakam II juga seporang korektor buku dan pendiri perpustakaan. Pada masa ini, masyarakat dapat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran. Pembangunan kota berlangsung cepat. [5]

4.      Periode keempat (1013-1086 M)
Pada periode ini, Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh negara kecil dibawah pemerintahan raja-raja golongan atau Al-Mulukuth-Thawaif, yang berpusat di suatu kota seperti Seville, Cordova, Toledo, dan sebagainya. Yang terbesar diantaranya adalah Abbadiyah di Seville. Pada periode ini umat Islam Spanyol kembali memasuki masa pertikaian intern. Ironisnya, kalau terjadi perang saudara, ada diantara pihak-pihak yang bertikai itu yang meminta bantuan kepada raja-raja kristen. Melihat kelemahan dan kekacauan yang menimpa keadaan politik Islam itu, untuk pertama kalinya, orang-orang kristen pada periode ini mulai mengambil inisiatif penyerangan. Meskipun kehidupan politik tidak stabil, namun kehidupan intelektual terus berkembang pada periode ini. Istana-istana mendorong para sarjana dana sastrawan untuk mendapatkan perlindungan dari satu istana ke istana lain.

5.       Periode Kelima (1086-1248 M)
Sekalipun pada masa ini kekuatan muslim Spanyol terpecah menjadi sejumlah negara kecil, namun terdapat kekuatan yang dominan yakni dinasti Murabithun (1086-1143 m) dan diansti Murabithun pada mulanya merupakan gerakan keagamaan di Afrika utara yang dipimpin oleh tokoh-tokoh agama (kiai) yang tinggal di Ribath (sejenis surau) yang dipimpin oleh seorang guru yang bernama Abdullah ibn Yasin. Gerakan Ribath ini berubah menjadi gerakan militer yang melakukan gerakan expansi di bawah pimpinan ibn Tasyfin yang berpusat di kota Marrakusy.
Ia masuk ke Spanyol atas “undangan” penguasa-penguasa Islam di sana yang telah memikul beban berat perjuangan mempertahankan negeri-negerinya dari serangan-serangan orang-orang kristen. Ia dan tentaranya memasuki Spanyol pada tahun 1086 M dan berhasil mengalahkan pasukan Castilia. Karena perpecahan di kalangan raja-raja muslim, Yusuf melangkah lebih jauh untuk manguasai Spanyol dan ia berhasil untuk itu. Akan tetapi, penguasa-penguasa sesudah ibn Tasyfin adalah raja-raja yang lemah. Pada tahun 1143 M, kekuasaan diansti ini berakhir, baik di Afrika utara maupun di Spanyol dan digantikan oleh dinasti Muwahhidun.
Al-Muwahhidun didirikan oleh ibn Tumart, berasal dari kawasan sus di Afrika Utara. Ibn Tumart menamakan gerakannya dengan al-Muwahhidun karena gerakan ini bertujuan untuk menegakkan tauhid (keesaan Allah), menolak segala bentuk pemahaman anthropomorfisme (tajsim) yang dianut oleh Murabitun. Karena itu, semangat perjuangan Ibn Tumart adalah menghancurkan kekuatan Murabithun. Ditangan Abdul Mun’im, seorang panglima militer Ibn Tumart dan sekaligus pengganti kedudukannya, Muwahhidun berhasil memasuki Spanyol. Antara tahun 1114-1154 M., kota-kota muslim di Spanyol.jatuh ke tangannya; kordoba, Almeria, dan Granada. Abdul Mun’im digantikan oleh saudaranya yang bernama Yaqub, dan kemudian tampilah Yaqub sebagai penerusnya. Dalam beberapa generasi ini Muwahhidun mengalami masa-masa kemajuan. Setelah kematian Yaqub, Muwahhidun memasuki masa-masa kemundurannya.bersama dengan kemunduran Muwahhidun ini, Pasukan salib yang telah dikalahkan oleh salahuddin di palestina kembali ke eropa dan mulai menggalang kekuasaan baru di bawah pimpinan Alfanso IX. Kekuasaan keristen ini mengulangi serangannya ke Andalusia. Kali ini mereka berhasil mengalahkan kekuatan muslim Muwahhidun. Setelah beberapa kali mengami kekalahan dan terusterdesak, akhirnya penguasa Muwahhidun meninggalkan Spanyol dan kembali ke Afrika Utara (Marokko). Sepeninggalan Muwahhidun ini, di Spanyol timbul kembali sejumlah kerajaan kecil. Di antara mereka yang terbesar adalah kekuatan Muhammad ibn Yusuf ibn Nash yang lebih terkenal sebagai " ibn Ahmad". Ia berhasil menegakkan sebuah kerajaan selama kurang lebih 2 abad.[6]

6.       Periode keenam (1248-1492 M)
Pada periode ini, islam hanya berkuasa di daerah Granada, dibawah dinasti bani Ahmar (1232-1492 M). peradaban kembali mengalami kemajuan seperti di zaman Abdurrahman an- Nasir. Akan tetapi, secara politik, dinasti ini hanya berkuasa diwilayah yang terkecil. Kekuasaan islam yang merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini berakhir karena perselisihan orang-orang istana dalam memperebutkan kekuasaan. Abu Abdullah Muhammad merasa tidak senang kepada ayahnya karena menunjuk anaknya yang lain sebagai pengganti menjadi raja. Dia memberontak dan berusaha memberantas kekuasaan. Dalam pemberontakan itu, ayahnya terbunuh kemudian digantikan oleh Muhammad ibn Sa'ad. Abu Abdullah kemudian meminta bantuan kepada Ferdinand an Isabella untuk menjatuhkannya. Dua penguasa Kristen ini dapat mengalahkan penguasa yang syah dan Abu Abdullah naik tahta.
Tentu sasja, Ferdinan dan Isabella yang mempersatukan dua kerajaan besar Kristen melalui perkawinan itu tidak cukup merasa puas. Keduanya ingin merebut kekuasaan terakhir umat islam di Spanyol. Abu Abdullah tidak kuasa menahan serangan-serangan orang Kristen tersebut dan pada akhirnya mengaku kalah. Ia menyerahkan kekuasaan kepada Ferdinan dan Isabela. Dan keudian dia hijrah ke Afrika Utara. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol pada tahun 1492 M. umat islam setelah itu dihadapjkan pada 2 pilihan, masuk Krusten atau meniggalkan Spanyol. Pada tahun 1609 M, boleh dikatakan tidak ada lagi umat islam di daerah ini.
C.     Perkembangan Ilmu-ilmu Agama dan Ilmu-ilmu Bangunan
1.       Filsafat
Islam di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brillian dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan penyeberangan yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani Arab ke Eropa pada abad ke-12. Minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 M, selama pemerintahan penguasa bani Umayyah yang ke-5, Muhammad bin Abdurrahman (832-886 M).
Atas inisiatif Al-Hakam(961-976 M), karya-karya ilmiah dan filosofis di impor dari Timur dalam jumlah besar, sehingga, Cordova dengan perpustakaan dan universitas-universitasnya mampu mernyaingi Baghdad sebagai pusat utama ilmu pengetahuan didunia Islam. Apa yang dilakukan oleh para pemimpin dinasti bani Umayyah di Spanyol ini merupakan persiapan untuk melahirkan filosof-filosof besar pada masa sesudahnya.
Tokoh utama pertama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu Bakr Muhmmad ibn Al-Sayyigh yang lebih dikenal dengan ibn Bajjah. Dilahirkan di Saragossa ia pindah ke Sevila dan Granada. Meninggal karena keracunan di Fez pada tahun 1138 M dalam usia yang masih muda sepertyi Al-Farabi dan Ibn Sina di Timur, masalah yang dikemukakannya bersifat etis dan eskatologis. Magnum opusnya adalah Tadbir Al-Mutawahhid.
Tokoh utama kedua adalah Abu Bakr Ibn Thufa'il, penduduk asli Wadhi' Asy, sebuah dusun kecil disebelah timur Granada dan wafat pada usia lanjut tahun 1185 M. ia banyak menulis masalah kedokteran, astronomi dan filsafat. Karya filsafatnya yang sangat terkenal adalah Hay Ibn Yaqzhan.
Bagian akhir abad ke-12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut Aristoteles yang terbesar di gelanggang filsafat dalam Islam, yaitu Ibn Rasyd, dari Cordova. Ia lahir tahun 1126 M dan meninggal tahun 1198 M. cirri khasnya adalah kecermatan dalam menafsirkan naskah-naskah Aristoteles dan kehati-hatian dalam menggeluti masalah-masalah menahun tentang keserasian filsafat dan agama.dia juga ahli Fiqh dengan karyanya Bidayatul Mujtahid.
2.      Sains
Ilmu-ilmu kedokteran, musik, matematika, astronomi, kimia dan lain-lain juga berkembang dengan baik. Abbas Ibn Farnash termasyhur dalam ilmu kimia dan astronomi.ialah orang pertama yang menemukan perbuatan kaca dari batu. Ibrahim Ibnu Yahya Al Naqqash terkenasl daalm Ilmu Astronomi. Ia dapat menentikan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa lamanya. Ia juga berhasil membuat teropong modern yang dapat mnenetukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang. Ahmad Ibnu Ibas dari cordova adalah ahli dalam bidang obat-obatan. Umm Al-Hasan binti Al Abi Jafar dan saudara perempuan Al-Hafiz adalah dua orang ahli kedoktoran dari kalangan wanita
3.      Fiqih
Dalam bidang fiqih Spanyol Islam dikenal sebagai penganut mahzab Maliki. Memperkenalkan mahzab ini adalah ziat ibnu abdul arrahman. Perkembangan selanjutnya ditentukan oleh ibnu Yahya yang menjadi Qodi pada masa Hisyam ibnu ala rahman. Ahli fiqih lainnya diantaranya adalah abu baker ibnu al qutiyah, munzir ibnu said al baluti dan ibnu hazm yang terkenal.
4.       Musik dan Kesenian
Dalam bidang musik dan bidang seni suara Spanyol Islam mencapai kecermelangan dengan tokohnya al hasan ibnu Hafi yang dijuluki zariyab. Setiap kali diselenggarakan pertemuan dan perjamuan zariyab selalu tampil menunjukan kebolehannya. Ia juga terkenak sebagai pengubah lagu. Ilmu yang dimilikinya itu diturunkan kepada anak-anaknya. Baik pria maupun wanita, dan juga kepada budak-budak, sehingga kemashurannya tersebar luas.
5.      Bahasa dan Sastra
Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan Islam di Spanyol. Hal itu dapat diterima oleh orang-orang Islam dan non Islam. Bahkan, penduduk asli Spanyol menduakan bahasa asli mereka. Mereka juga banyak yang ahli dalam bahasa arab baik keterampilan membaca maupun tata bahasa mereka itu antara lain : Ibnu Sayyidi, Ibnu Malik, Pengarang Alfiyah, Ibnu Khuruf, Ibnu al Hajj, Abu Ali Al Isybilli, Abu Al Hasan, Ibnu Usfur, dan Abu Hayyan al Gharnathi.
Seiring dengan kemajuan bahasa itu karya-karya sastra banyak bermunculan seperti al 'Iqd Al Farid karya Ibnu Abdul Rabbih, Al Dzakhirah fi mahasin ahl al-jazirah oleh Ibnu Bassam, kitab ala Qalaid buah karya Al Fath Ibnu Khaqam dan banyak lagi yang lain.
6.      Cordova
Cordova adalah ibukota Spanyol sebelum Islam, dan kemudian diambil alih oleh Bani Umayah. Oleh penguasa muslim, kota ini dibangun dan diperindah. Jembatan besar dibangun diatas sungai yang mengalir di tengah kota. Taman-taman kota dibangun untuk menghiasi ibukota Spanyol Islam. Pohon-pohon dan bunga di impor dari timur. Di seputar ibukota berdiri istana-istaan yang megah yang semakin mempercantik pemandangan, setiap Istana dan taman diberi nama tersendiri dan dipuncaknya terpancang Istana damsik.
Diantara kembanggaan kota cordova lainya adalah mesjid cordova. Menurut ibnu al dhalai', terdapat 491 mesjid disana, di samping itu, cirri khusus kota-kota Islam adalah tempat tempat pengundian. Di cordova saja terdapat sekitar 900 pemandian di sekitarnya berdiri perkampungan-perkampungan yang indah. Karena air sungai tak dapat diminum, penguasa muslim mendirikan saluran air dari pergunungan yang panjangnya 80 km.
7.     Granada
Granada adalah tempat pertahanan terakhir umat Islam di Spanyol. Diosana berkumpul sisa-sisa kekuatan arab dan pemikir Islam. Posisi cordova diambil alih oleh Granada di masa-masa akhir kekuasaan Islam di Spanyol. Arsitektur bangunannya terkenal diseluruh Eropa Istana al hamra yan gindah dan megah adalah pusat dan puncak ketinggian arsitektur Spanyol Islam. Istana itu dikelilingi taman-taman yang tidak kalah indahnya.
Kisah tentang kemajuan pembangunan fisik ini masih bias di perpanjang dengan kota dan istana al-Zahra, istana al-Gazar, menara Girilda dan lain-lain.[7]



 IV.            KESIMPULAN
1.      Spanyol Islam, kemajuannya sangat ditentukan oleh adanya penguasa-penguasa yang kuat dan berwibawa, yang mampu mempersatukan kekuatan-kekuatan umat Islam, seperti Abdurrahman al-Dakhil, Abdurrahman al-Wasith dan Abdurrahman an-Nashir. Keberhasilan politik pemimpin-pemimpin tersebut ditunjang oleh kebijaksanaan penguasa-penguasa lainnya yang memelopori kegiatan-kegiatan ilmiah yang terpenting di antara penguasa dinasti Umayyah di Spanyol dalam hal ini adalah Muhammad ibn Abdurrahman(852-886M) dan al-Hakam II al-Muntashir (961-976M).
2.      Perkembangan kota dan seni bangunan pada:
a.      Pada Periode pertama (711-755) ini Spanyol di pimpin oleh para wali yang berpusat di Damaskus, stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurnah dan Belum terjadinya pembangunan di bidang kebudayaan dan peradaban karena terlalu banyak konflik dari dalam.
b.      Pada periode kedua (755-912) ini Spanyol berada dibawah pemerintahan seorang yang bergelar amir (panglima atau gubernur). Dan pada periode ini Islam Spayol mendirikan masjid Cordova dan sekolah-sekolah di kota-kota besar Spanyol.
c.       Periode ke-3(912-1013M) ini berlansung mulai dari pemerintahan Aburrahman III yang bergelar “An-Nasir”. Dan pada periode ini Abdurrahman An-Nasir mendirikan universitas Kordoba, Perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku.
d.      Periode keempat (1013-1086 M) ini Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh negara kecil dibawah pemerintahan raja-raja golongan atau Al-Mulukuth-Thawaif.
e.       Periode Kelima (1086-1248 M) pada masa ini kekuatan muslim Spanyol terpecah menjadi sejumlah negara kecil, namun terdapat kekuatan yang dominan yakni dinasti Murabithun (1086-1143 m). dan diansti Murabithun.
f.       Periode keenam (1248-1492 M) Pada periode ini, islam hanya berkuasa di daerah Granada, dibawah dinasti bani Ahmar (1232-1492 M).
3.      Lebih dari tujuh abad, kekuasaan islam di Spanyol umat Islam telah mencapai kejayaan disana. Banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan juga dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks.


    V.            PENUTUP
Demikian makalah ini kami susun. Punulis menyadari dalam makalah ini masih banyak sekali kekurangan dan jauh dari kesan “sempurna”. Oleh karena itu, kritik dan saran yang kontruktif sangat penulis harapkan demi kesempurnaan makalah saya selanjutnya. Akhirnya semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi siapa saja yang membcanya. Amien.




















DAFTAR PUSTAKA
Ali,K. Sejarah Islam (Tarikh Pramodern),Jakarta;Srigunting,2003
Syalabi,A.Sejarah dan Kebudayaan Islam2,Jakarta: Alhusna Zikri,1995
Karim,Abdul.Sejarah pemikiran dan Peradaban Islam,Yogyakarta:pustaka book publisher,2007
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada,2006


[1] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,2006) hlm.87
[2] Abdul Karim,Sejarah pemikiran dan Peradaban Islam,(Yogyakarta:pustaka book publisher,2007).hlm.227
[3] A.Syalabi.Sejarah dan Kebudayaan Islam2,(Jakarta: Alhusna Zikri,1995). Hlm.158-159
[4] Badri Yatim, Op.Cit, hlm.89-90
[5] Ibid.hlm.93-97
[6]  K.Ali. Sejarah Islam (Tarikh Pramodern),( Jakarta;Srigunting,2003),hlm.471-473
[7] Badri Yatim, Op.Cit, hlm.99-105